KETIKA PENDIDIKAN MELUPAKAN ORANG TUA

KETIKA PENDIDIKAN MELUPAKAN ORANG TUA

KETIKA PENDIDIKAN MELUPAKAN ORANG TUA

ditulis oleh Ilham Prima Pangestu, S.Pd., Gr.

Pada Momen libur Lebaran Idul Fitri kemarin, waktu saya banyak dihabiskan bersama keluarga. Salah satu aktivitas yang saya lakukan bersama keluarga di momen itu adalah menonton film “Na Willa”. Menariknya, interaksi karakter Na Willa dan Mak dalam film ini seketika mengingatkan saya pada sebuah nasihat bijak: “Sekolah terbaik di dunia tidak akan pernah bisa menggantikan satu jam duduk bersama orang tua di meja makan.”

​Ungkapan itu mungkin terdengar berlebihan, tetapi begitulah kenyataan yang saya rasakan. Saya ingat betul saat pertama kali menginjakkan kaki di Taman Kanak-Kanak, saya tidak dapat bekal dari guru mana pun. Persis seperti tokoh Willa, bekal saya adalah pendidikan yang saya dapatkan dari dua orang yang paling bersungguh-sungguh mendidik saya.

Kala itu, Setiap sore sepulang kerja, Ayah saya selalu meluangkan waktu di depan papan tulis kecil buatannya untuk mengenalkan saya pada alfabet. “Ini A. Ini B” ucapnya. Ibu saya pun tak kalah hebatnya, dengan sabar ia menuntun jemari saya memegang pensil, menebalkan garis, hingga menulis nama saya sendiri. ​Namun, Di sela-sela itu semua, keduanya tidak lupa menyisipkan hal yang jauh lebih penting dari alfabet dan angka, yakni bagaimana bersikap kepada orang yang lebih tua, bagaimana berterima kasih, dan bagaimana jujur meski tidak ada yang melihat.

Dulu saya tidak menyadari bahwa perhatian dan didikan orang tua membawa dampak yang begitu positif bagi perkembangan diri saya. Namun, setelah menyelami berbagai literatur, saya baru memahami bahwa keterlibatan aktif orang tua, atau parental involvement, seperti yang dilakukan oleh orang tua saya adalah salah satu faktor penentu keberhasilan seorang anak.

Laurence Steinberg, psikolog perkembangan dari Temple University, menegaskan dalam risetnya bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dalam pembentukan karakter, motivasi belajar, dan kecerdasan emosional anak. Penelitian yang diterbitkan dalam Ikhlas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam (2025) memperkuat hal ini: orang tua dengan tingkat keterlibatan tinggi secara langsung berkontribusi pada keberhasilan akademik dan pembentukan karakter anak. Kedua pernyataan ini menegaskan bahwa rumah adalah laboratorium pertama seorang anak, tempat di mana ia belajar tentang kepercayaan, cinta, ketekunan, dan nilai-nilai hidup. Jauh sebelum ia tahu apa itu kurikulum.

Sayangnya, realitas di Indonesia saat ini masih jauh panggang dari api. Setiap kali bicara soal pendidikan nasional, fokus kita hampir selalu habis untuk membahas fasilitas sekolah, kualitas guru, dan gonta-ganti kurikulum, sementara peran krusial orang tua justru sering terlupakan. Padahal, data Kemendikbudristek 2023 mengungkap fakta pilu bahwa ada sekitar 60% anak yang harus berjuang sendirian tanpa pendampingan rutin orang tua saat belajar di rumah.

Krisis pengasuhan ini makin mengkhawatirkan dengan data Susenas BPS Maret 2024 yang mencatat 15,9 juta anak kita tumbuh dalam kondisi fatherless. Menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia. Ini adalah alarm keras, karena riset dari UIN Syarif Hidayatullah dengan gamblang memperingatkan bahwa hilangnya sosok ayah berbanding lurus dengan melonjaknya kenakalan remaja, yang pada akhirnya bermuara pada hancurnya capaian akademis anak-anak kita.

Dampak nyata dari minimnya kehadiran orang tua ini terlihat jelas pada rapor merah pendidikan kita, seperti yang ditunjukkan oleh hasil PISA 2022 (dirilis OECD pada Desember 2023) yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-66 dari 81 negara. Tren penurunan ini menjadi rapor merah yang kronis, mengingat skor kompetensi anak-anak Indonesia tercatat tidak pernah membaik secara signifikan sejak pertama kali kita mengikuti tes PISA pada tahun 2000 silam.

Lebih dari sekedar angka dan peringkat, deretan data ini mencerminkan nasib nyata anak-anak kita. Di balik buruknya skor PISA dan tingginya angka fatherless tersebut, ada jutaan anak Indonesia yang saat ini tumbuh tanpa stimulasi yang cukup di dalam rumah mereka sendiri. Ini adalah potret generasi yang dipaksa melangkah tanpa fondasi karakter dan akademik yang kuat, bekal krusial yang seharusnya sudah dibangun oleh orang tua di rumah, jauh sebelum anak-anak itu pertama kali menginjakkan kaki di sekolah.

Sebenarnya, upaya meningkatkan kesadaran pengasuhan di Indonesia sudah ada lewat berbagai cara, salah satunya adalah seminar parenting di sekolah. Sayangnya, efektivitas program ini masih dipertanyakan karena kelas bulanan yang singkat tidak akan cukup untuk mengubah pola asuh yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun. Perubahan kebiasaan orang tua jelas tidak bisa tumbuh instan hanya dari sekali duduk mendengarkan ceramah.

Menyadari besarnya masalah ini, kita tidak boleh hanya berpangku tangan dan menyerah seakan tidak punya solusi. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat program agar orang tua kembali pusat ekosistem pendidikan. Pemerintah harus hadir memfasilitasi program edukasi pengasuhan yang terstruktur, berkelanjutan, dan mudah diakses oleh semua kalangan, termasuk masyarakat di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan masyarakat dengan ekonomi rendah.

Selain mengembalikan orang tua ke inti ekosistem pendidikan anak, masalah-masalah terkait dengan fatherless juga harus diselesaikan secara konkret. Kita butuh regulasi jam kerja yang ramah keluarga, penguatan bimbingan pranikah tentang peran ayah, hingga kampanye budaya yang masif agar keterlibatan aktif seorang ayah dalam pengasuhan sehari-hari menjadi hal yang lumrah.

Setelah dua poin tadi dilakukan, selanjutnya sekolah perlu merombak total konsep kelas parenting yang sudah mereka punya. Alih-alih dibuat dalam bentuk seminar satu arah, kegiatan parenting di sekolah seharusnya menjadi forum interaktif berbasis komunitas yang dampaknya diukur secara berkala. Selain itu, sekolah juga perlu mendorong guru-guru untuk membuka komunikasi dua arah kepada orang tua agar orang tua tetap mengetahui perkembangan anak di sekolah.

Kendati demikian, keseluruhan solusi tadi tidak akan optimal tanpa fondasi yang kuat di rumah. Kunci utamanya tetap kembali ke orang tua. Setiap orang tua harus sadar bahwa mereka adalah guru pertama bagi anaknya. Tak perlu gelar tinggi, orang tua hanya cukup hadir secara utuh, konsisten, dan penuh kasih sayang kepada anaknya.

Akhir kata, pendidikan yang baik tidak dimulai dari gedung sekolah mewah atau kurikulum yang sempurna. Ia dimulai dari rumah yang hangat, dari orang tua yang mau duduk, mendengar, dan hadir. Jadi, untuk siapa pun yang membaca ini, entah Anda orang tua, calon orang tua, atau bagian dari sistem pendidikan kita: mari kembalikan orang tua ke tempat mereka seharusnya berada. Di jantung pendidikan anak.

Karena ketika pendidikan melupakan orang tua, yang sesungguhnya terlupakan adalah anak-anak itu sendiri.

Daftar Pustaka:

Badan Pusat Statistik. (2024). Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.

Charismiadji, I. (2023, Desember 6). Skor PISA Indonesia tak capai target RPJMN 2024. Medcom.id. https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/GNlPJEgN-skor-pisa-indonesia-tak-capai-target-rpjmn-2024

Hariyono, D. S., & Humaira, N. A. (2024). Dampak ketiadaan peran ayah (fatherless) terhadap pencapaian akademik remaja: Kajian sistematik. Jurnal Psikologi. https://journal.pubmedia.id/index.php/pjp/article/view/2567

Kemendikbudristek. (2023). Data pemantauan keterlibatan orang tua dalam pendidikan. Jakarta: Kemendikbudristek.

Kilas Jurnal. (2025, Oktober). Fenomena fatherless di Indonesia: 15,9 juta anak tumbuh tanpa ayah, pakar UGM ungkap dampaknya. https://kilasjurnal.id/insight/15-9-juta-anak-fatherless/

OECD. (2023). PISA 2022 results: Country note – Indonesia. Organisation for Economic Co-operation and Development. https://www.oecd.org/pisa/

Rahmatulloh, & rekan. (2025). Peran orang tua dalam mendukung keberhasilan akademik dan pembentukan karakter anak. Ikhlas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, 2(1). https://ejournal.aripafi.or.id/index.php/Ikhlas/article/download/330/385/1744

Steinberg, L. (2001). We know some things: Parent–adolescent relationships in retrospect and prospect. Journal of Research on Adolescence, 11(1), 1–19. https://doi.org/10.1111/1532-7795.00001

Utami, A. P. (n.d.). Analisis dampak fatherless pada kenakalan remaja SMAN di Jakarta Timur (Skripsi). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/59373/1/11140150000064_AZHARY%20PANGESTU%20UTAMI%20-%20AZHARY%20PANGESTU%20UTAMI.pdf   

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *